Sebisa mungkin kita tidak memperlakukan harapan seperti sebuah karib.
Karena kau tahu? Ia adalah pengkhianat yang ulung. Kita dibikin senang,
terbang, mungkin sedikit girang. Lalu dor! Begitu saja tanpa persiapan.
tanpa aba-aba kita dipaksa jatuh, rubuh dan tersungkur. Barangkali juga
soal hidup yang terlampau tengik. Bisa juga ia soal keseharian yang
terlampau biasa. Soal nasi goreng atau roti panggang, pilates atau yoga,
Madrid atau Barcelona, kubikel atau lapangan...
"Hujan itu cara bumi menulis puisi," kata si perempuan.
Ia sendirian. Duduk di antara bangku kosong di pusat kota. Hanya ada
pohon asam jawa dengan daunya yang berguguran. Ini seharusnya akhir
musim kemarau, tapi hujan kagetan semalam membuat tanah di alun-alun
kota kecil itu berbalut lumpur. Belum lagi sampah dari bungkus gorengan,
minuman kemasan, spanduk caleg dan yang paling menggelikan kondom
bekas. Lagipula siapa manusia yang terlalu miskin sampai melepas birahi
harus dilakukan di alun-alun kota ini?
Tapi tokoh kita, si perempuan, tentu tak peduli itu. Ia hanya peduli
pada perasaannya sendiri. Ia baru saja keluar dari kediaman lelaki yang
ia cintai. Cinta mungkin kata yang terlampau kuat, mungkin suka, sayang
atau obsesi? Tidak jelas betul. Tapi rona mukanya barangkali sudah bisa
menjelaskan betapa ia sedang kecewa. Ia bisa melihat negativitas
dimana-mana. Ia melihat wacah caleg yang berbinar ceria dengan proyeksi
ia akan kalah dan menjadi gila.
"Harusnya maskara diberi label peringatan. Jangan dipakai ketika kasmaran," katanya bergumam.
Cerita ini akan terus bicara soal monolog. Juga sesekali curhat penulis
bicara dengan mulut si karakter. Jika jeli, anda bisa menemukan jika
narasi prosa ini terlampau cerewet. Barangkali juga menggurui,
menyebalkan dan sok tahu, tapi itulah prosa. Kadang-ladang si penulis
jujur, kadang kadang ia hanya berdalih sebagai proses kreatif. Menemukan
bentuk baru karya sastra katanya. Tapi tentu itu tak penting. Ada hal
yang lebih penting untuk dibicarakan di sini.
"Seharusnya ada cara lebih efisien, singkat dan ringkas untuk jatuh
cinta. Tanpa harus bertele-tele memelihara perasaan," kata si perempuan.
Lantas menyeka ingus dari hidungnya. "Dengan katalog lalu memesan via
telpon. Lantas menjalani hidup sebisanya, sekuat cicilan, jika mampu
bahagia jika tidak ya lepaskan. Tanpa beban."
Jika adil, hidup akan jadi sangat membosankan. Ketidakadilan itu membuat
manusia menjadi pejal, liat dan kuat. Mereka menaklukan ketidakadilan
itu lantas membuat fondasi baru bagi peradaban setelahnya. Tapi tentu
itu tak begitu penting. Kita harus menunggu mengapa karakter ini, si
tokoh ini sendirian di tengah kota pada sore yang gerah dan membosankan
ini.
"Sex contains all," kata Walt Whitman "Bodies, Souls, meanings, proofs, purities, delicacies, results, promulgations,"
"Tapi tentu saja. Cinta tidak semudah seks. Tidak sesederhana seks.
Cinta itu rumit. Bahkan lebih rumit daripada paradox Zeno," si perempuan
menghembuskan ingus yang membuat suaranya sengau. "Kura-kura, Achilles
dan kenapa jarak itu brengsek."
Ah tidak brengsek juga sebenarnya. Mungkin hanya susah dipahami. Ah itu
di kejauhan ada tukang bakwan, penjual balon dan juga anak-anak kecil
yang baru pulang mengaji. Mereka begitu saja melewati si perempuan.
Seolah-olah perempuan itu tak ada, seolah-olah dalam keremangan senja
tak ada satu orang pun di kursi itu. Kursi di alun-alun kota yang sepi
itu.
Perempuan itu manis. Tidak cantik cantik amat. Ia bukan Emma Watson
tentu saja, bukan pula Raisa. Tapi ia adalah kemurnian yang lain. Pesona
yang kau dapat dari sensasi asing. Seperti pertama kali membaca buku
lantas kau tak bisa berhenti. Atau pertama kali mendengar lagu hingga
kau putar berulang kali. Ia punya karisma semacam itu. Karisma untuk
kemudian disukai tanpa alasan. Tapi tentu saja kalian hanya bisa
membayangkan.
"Menjadi perempuan itu susah. Menjadi karakter perempuan dalam sebuah
cerita jauh lebih susah. Jika penulisnya perempuan ia akan bikin si
perempuan jadi maha hebat, maha kuat, maha angkuh dan mandiri. Padahal
tidak semua begitu. Tidak semua Seperti Margaret Thatcher atau Joan d
Arc. Beberapa dari kami tidak lebih baik daripada Zaenab atau Rapunzel
yang menunggu dibebaskan," kata si perempuan.
"Sedang bila penulisnya lelaki. Ia akan bikin kami jadi binal, jadi
nakal dan penuh birahi. Padahal tidak juga demikian. Tidak semua
demikian. Lagi pula apa isi otak lelaki selain seks dan sepak bola?"
kata si perempuan.
Angin berhembus. Masi pengap dan panas. Di kursi itu, selain perempuan
yang duduk, ada sebuah apel yang digigit separuh. Apel warna hijau ranum
yang warna dagingnya memutih. Tanda bahwa ia terlalu lama dibiarkan
setelah gigitan pertama. Barangkali hidup seperti itu. Seperti gigitan
apel pertama. Kesempurnaan buah menjadi tanggal lantas menjadi bopeng
sebagian. Lantas dibiarkan kisut, menua, busuk dan dimakan usia. Pada
kesempurnaan yang awal itu barangkali kita...
"Kamu ngomong apa sih?" kata si perempuan.
"Saya sedang jatuh cinta, kalian tahu kan?" lanjut si perempuan.
"Iya aku tahu. Tapi kenapa sampau harus demikian memilukan?"
"Bagi saya ini tak memilukan. Ini menyenangkan. Jatuh cinta dan menyesap sampai habis ampas melankolinya,"
"Engkau berlebihan. Kami tak suka. Kami di sini harus berbagi tubuh
kalau engkau jatuh cinta pasti engkau malas makan. Kami tak suka," kata
si perempuan.
"Tapi ini penting bagi saya. Ini pertama kali saya jatuh cinta dengan terlalu,"
"Alah kemarin elu juga bilang gitu ama si cowok yang dimana? Solo? Elu nya kegatelan kagak bisa ngeliat cowok bening dikit,"
"Benar. Engkau terlalu mudah jatuh cinta,"
"Aku gak masalah. Tapi kebiasaanmu ini menyebalkan. Masa tiap minggu jatuh cinta?"
"Tapi saya yakin ini yang terakhir,"
"Gue laper gue makan apelnya ya,"
"Tunggu. Kita belum selesai bicara,"
"Iya. Engkau jangan makan itu dulu,"
"Silahkan makan saja. Saya sudah kenyang,"
Si perempuan lantas bicara dengan nada-nada berbeda. Semuanya dengan
tema yang sama. Harus ataukah tak harus sisa apel yang mulai menguning
warna dagingnya itu dimakan. Apel yang warna hijaunya bekilauan diterpa
sinar matahari sore.
"Menarik bagaimana cara manusia bertahan hidup." kata si perempuan seraya memandang apel di tangannya.
"Engkau tahu? Kita memangsa mahluk lain untuk bisa bertahan. Memangsa
daya hidup dari mahluk yang lebih lemah. Mengkonversinya jadi energi
lantas membuat kita terus berkembang biak,'
"Sok iye lu pade,"
"Saya pikir itulah cinta. Tentang bagaimana usaha manusia mencari relasi agar ia memuaskan afeksinya,"
"Afeksi itu overrated. Ia membuat kalian menjadi buta. Endorphin yang dihasilkan perasaan ketika bersama kekasih itu tak jauh beda dengan olah raga maraton."
"Barangkali begitu. Tapi tidak membuat engkau sadar? Cinta bukan
sekedar hormon. Ia adalah soal lain. Soal dibutuhkan dan membutuhkan,"
Monolog itu berlangsung riuh. Masing-masing suara hendak bercerita.
Hendak ambil bagian. Hendak didengar dan hendak berpendapat. Tentang
birahi, tentang afeksi dan tentang menjadi rasional.
Sementara di pintu masuk taman. Dua orang lelaki berpakaian putih datang
membawa kursi roda. Mereka menuju si perempuan. Wajah mereka dingin,
tanpa eskpresi dan hampir tanpa emosi.
"Mbak. Sudah ayo pulang. Waktunya minum obat," kata salah satu lelaki itu.
Sementara malam sudah datang.
Apel dan Empat Kepala
Info Post
0 komentar:
Posting Komentar