Breaking News
Loading...
Senin, 14 Oktober 2013

Info Post
Tinggalkan sejenak soal Akil Mochtar, tinggalkan pula soal Ratu Atut atau Bunda Putri. Untuk sementara, urusan Akil dan Ratu Atut biar KPK yang sibuk. Untuk Bunda Putri, biar Pak Beye dan Luthfie Hassan Ishaq yang ribut.
Tak perlu kita turut campur terlalu dalam. Cukup jadikan obrolan di sela-sela waktu istirahat atau cuap-cuap di warung-warung kopi. Setelah itu, mari kembali ke “asal” masing-masing. Dan sesekali berdo’a di sela-sela aktivitas kita, semoga keadaan akan lebih baik.
Urusun politik dan hukum kiranya sudah cukup membuat kita –rakyat kecil– penat. Berteriak sekencang dentuman bunyi roket Hizbullah yang menghantam bumi Israel pun percuma. Tak ada yang mendengar. Jangankan didengar, dianggap pun tidak. Alih-alih, yang ada malah kita ketularan virus-virus pesimis. Virus yang membuat hati dan pikiran selalu su’udzon. Bawaannya curiga melulu.
Sekarang, mari mencari yang segar-segar. Yang bisa menumbuhkan sikap optimis kita. Yang bisa menumbuhkan rasa percaya diri kita. Yang bisa menunjukkan “bahwa kita bisa.” Bahwa kita bisa, kalau kita percaya.
Bahwa kita bisa, kalau kita percaya diri. Itulah yang ditanamkan pelatih timnas U19, Indra Syafri, ke anak didiknya. Buktinya, Korea Selatan yang notabene juara bertahan dan juara 12 kali piala AFC U19 bisa dikalahkan, dikolongin pula. Tiket final piala AFC U19 di Myanmar tahun depan pun berhasil direbut dengan nilai sempurna.
“Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan.” Itulah yang dikatakan Coach Indra pada anak didiknya sehari sebelum melawan Korea Selatan pada laga pamungkas perebutan tiket final piala AFC U19.
Tak ada kata sungkan pada juara bertahan. Tak ada pula anggapan bahwa Korea Selatan U19 sebagai tim yang lebih superior dari kita. Meski Teuguk Warriors telah mengoleksi 12 gelar juara, tak ada urusan. Prinsip dasarnya, sepak bola adalah permainan 11 lawan 11. Sudah, selain itu jangan terlalu diambil pening.
Self confidence. Percaya diri. Inilah yang kurang dimiliki oleh Timnas Indonesia dalam mengikuti sebuah turnamen. Alhasil, Indonesia kerap hanya menjadi pemanis di tiap kejuaraan yang diikuti –kalau tak boleh dikatakan sebagai olok-olokan tim lawan.
Kurangnya rasa percaya diri inilah yang kemudian disadari betul oleh pelatih Timnas U19. Tak ingin bernasib sama dengan Timnas Indonesia di turnamen-turnamen sebelumnya, coach Indra mulai membangkitkan rasa percaya diri anak didiknya untuk menjadi sebuah tim yang pantang menyerah. Tim yang berani bertarung. Tim yang berani berkata bahwa kami adalah bangsa yang besar. Bahwa kami membawa panji-panji merah putih. Bahwa kami adalah Indonesia.
Dengan kepercayaan diri pula, Indra tak sekadar menjadikan anak-anak asuhnya gladiator lapangan yang bermain tanpa jiwa bak robot. Anak-anak muda ini dibentuk menjadi pria-pria yang siap mengemban tanggung jawab. Anak-anak muda yang berani berkreasi dan berteatrikal memainkan si kulit bundar. Anak-anak muda yang berani menunjukkan diri sebagai seniman sejati sepakbola.
Dengan kepercayaan diri dan bangunan mental yang kuat, anak-anak asuh Indra Syafri menghibur jutaan rakyat Indonesia. Menumbuhkan kebanggaan pada diri orang tua mereka. Menumbuhkan histeria rakyat Indonesia, bahwa sepakbola adalah permainan. Maka, mari nikmati permainan ini, mari nikmati saja kemenangan ini.
Bermain bak Leonel Messi dkk. Mereka memeragakan permain umpan satu dua. Dari kaki ke kaki. Bermain tiki taka. Evan Dimas mengoper bola ke Ilham Uddin Armayn. Ilham menyisir dari sisi kiri pertahanan Korea. Mengoper ke tengah, di sana ada Muchlis. Sedikit sentuhan oleh Muckhlis. Bola dioper ke Evan Dimas. Evan Dimas menyambar bola, dan golllll…!!
Rakyat berteriak. Yang di pinggir jalan, yang di gubuk-gubuk, di rumah-rumah kumuh, di apartemen, di cafe-cafe, di gedung-gedung bertingkat, di Istana Negara dan di tiap penjuru negeri. Semua berteriak dan bersuka ria ketika Garuda Muda membuktikan bahwa siapapun bisa dikalahkan kecuali Tuhan. Tak ada soal siapa lawan. Ketika kita percaya pada kemampuan diri maka tak ada yang mustahil.
Bahwa kita bisa, kalau kita percaya. Prinsip ini masih dipegang teguh Indra Syafri, setelah terbukti ampuh menghantarkan Indonesia mengangkat trofi piala AFF U19 dan tiket otomatis final piala AFC U19. Seakan berhasil mendiagnosis dan menemukan obat bagi penyakit timnas, Indra tak ingin timnas terjangkit penyakit yang sama. Dengan kepercayaan dirinya, Indra terus memupuk rasa percaya diri punggawa-punggawa Timnas.
“Korea Selatan saja yang juara Piala AFC sudah kami kalahkan. Malaysia pun bisa kami injak-injak sekarang. Sementara Timor Leste, jelas bukan lawan kami,” pungkasnya.
Tak hanya ingin menularkan kepercayaan diri pada anak asuhnya. Coach asal Padang tersebut pun berharap bahwa bangsa ini tak terus-terusan hidup di bawah bayang-bayang rasa minder. Indra dan Timnas U19 membawa pesan untuk seluruh rakyat Indonesia. Indra membawa pesan untuk siapapun yang hidup dan menginjakkan kaki di Bumi Pancasila. Bahwa Indonesia harus percaya diri, Indonesia tidak hanya garuda yang garang di angkasa. Indonesia juga adalah macan yang garang saat menginjakkan kaki di bumi.
“Mulai saat ini, kita harus berpikir bahwa Indonesia adalah macan Asia.”

0 komentar:

Posting Komentar